About Us
Contact
Privacy & Policy
  Home > Success Story
> Success story 
  See also 
Sharing Informasi dan Pengalaman Kuliah sambil Bekerja di Jerman
Strategi Mencari Beasiswa di Jepang
Pengalaman kuliah di Jepang
Catatan Singkat mencari beasiswa
Study di Jerman, siapa takut ...?!!!
Pengalaman Studi & Beasiswa di Korea Selatan
Pengalaman Penerima Beasiswa di University of Oslo, Norwegia
Agus Sari, Beasiswa Fulbright, UC Berkeley
Denni Purbasari, Beasiswa Fulbright, University of Illinois, Urbana-Champaign
Henny Herwina, Koordinator Program S1 Non Reguler Jurusan Biologi FMIPA Unand
 
 
 
 
 






  Kalender Beasiswa 


More than 1 scholarships available in 2008/2009 
 
 
Tips Memperoleh Beasiswa Studi Luar Negeri Ala Chusnul Mar'iyah PhD
www.chusnulmariyah. or.id - by Chusnul Mar'iyah

Dari beberapa diskusi ada beberapa pertanyaan tentang beasiswa. Saya ingin membagi pengalaman menjemput beasiswa. Paling tidak sejak SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sampai mengambil pendidikan Ph.D saya selalu mendapatkan beasiswa.

1. Pada saat SPG (setingkat SMA) saya menerima beasiswa selama 2 tahun terakhir. Kualifikasi mudah sekali selama kita bisa menunjukkan ranking 1 sampai 3, kita mendapatkan beasiswa. Ada juga scheme beasiswa untuk orang miskin.

2. Pada saat pendidikan Sarjana di FISIP UI, saya menerima beasiswa dari Diknas sejak tingkat 2, setelah tentu saja kita menunjukkan prestasi akademik.

3. Pada saat saya menjadi anggota Senat Mahasiswa FISIP UI, dengan Ketua Senat sdr. Imam Prasodjo, kebetulan saya memegang posisi ketua bidang
pendidikan. Saya baru melihat ada ketidakadilan dalam proses transparansi beasiswa. Saya memiliki teman yang kaya-raya mendapatkan beasiswa dari Toyota Foundations yang sebulannya mendapatkan 50 ribu rupiah (bandingkan dengan beasiswa dari Diknas yang 9 ribu rupiah saja). Biaya tinggal di Wismarini (asrama UI) hanya 3 (tiga) ribu rupiah. Saya langsung protes ke PD III, agar beasiswa harus diumumkan jauh hari ke mahasiswa. Akhirnya saya dapat pindah beasiswa ke Toyota Foundation. Maka saya sangat kaya saat menjadi mahasiswa waktu itu. Penguasa, termasuk di universitas, biasanya tidak memberikan informasi jauh hari kepada mahasiswa. seringkali tinggal beberapa hari, sehingga kita tidak dapat mengurus beasiswa tersebut karena sudah ditutup.

4. Pada saat yang sama saat di SM FISIP UI, saya juga menjadi Sekretaris Komisariat HMI FISIP UI. Saya melihat bahwa banyak anggota HMI ternyata
miskin-miskin. Bersamaan dengan program SM FISIP UI, saya yang miskin dan sudah dapat beasiswa, saya panggil orang-orang miskin tsb dan membuat strategi untuk mendapatkan beasiswa. Belajar diperbaiki, kualifikasi akademik diperbaiki. Alhamdulillah kita yang miskin-miskin akhirnya menjadi pinter-pinter dan mendapatkan beasiswa.

5. Pada saat selesai kuliah saya ingin ke luar negeri. Posisi Sekretaris Jurusan Ilmu Politik FISIP UI saya manfaatkan untuk membangun relasi dengan berbagai lembaga beasiswa. Saat itu juga saya memiliki teman anak Menteri Pendidikan. Saya bilang bahwa saya membutuhkan beasiswa. Dia mau
bantu, tapi saya menolaknya. Saya katakan kalau 3 kali saya menjemput beasiswa dan gagal barulah saya akan meminta katabelece dari teman yang
anak Menteri Pendidikan tsb.

6. saya mendapatkan beasiswa dari Australia Indonesia Institute untuk mengambil MPhil Houners Degree di Sydney University. AII ini sebetulnya tidak tertarik untuk memberikan program beasiswa yang lama (2 tahun). Program AII menurut saya hanya untuk mendapatkan nama di media sehingga programnya lebih berupa short visit, seperti memberi beasiswa kepadaChristine Hakim, Gunawan Muhammad dkk mereka. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa tersebut selama 2 tahun dan itu satu-satunya program AII sampai saat ini.

7. Saya menyadari kebencian saya terhadap bahasa Inggris, karena dari SPG Lamongan, kuliah di FISIP UI, teman-teman saya kalau dilihat tempat lahirnya, London, Washington, Manila, Maroko, Amsterdam. Nah, sebagai orang ndeso Babat tembak langsung ke Jakarta, sebel juga saya dengan Bahasa Inggris, walau di mata kuliah Bahasa Inggris tetap mendapat angka 8 (delapan). Sangat disadari bahasa inggris yang pas-pasan tersebut. Alhamdulillah saya lumayan IELT nya. Setelah 5 bulan benar-benar konsentrasi belajar bahasa Inggris, meninggalkan aktivitas LSM dan lain-2nya. Untuk dapat masuk di Sydney University paling tidak harus 7,5 IELT yang harus didapatkan. Saya termasuk yang tidak mendapatkan 7,5, saya lupa mungkin hanya 6,5 IElT tapi tetap dapat masuk di Sydney University (the first university in Australia).

Silahkan baca lebih lengkapnya di:

www.herususetyo.multiply.com

 
 
!***!