|
www.chusnulmariyah. or.id - by Chusnul Mar'iyah
Dari beberapa diskusi ada beberapa pertanyaan tentang beasiswa. Saya
ingin membagi pengalaman menjemput beasiswa. Paling tidak sejak SPG
(Sekolah Pendidikan Guru) sampai mengambil pendidikan Ph.D saya selalu
mendapatkan beasiswa.
1. Pada saat SPG (setingkat SMA) saya menerima beasiswa selama 2 tahun
terakhir. Kualifikasi mudah sekali selama kita bisa menunjukkan ranking
1 sampai 3, kita mendapatkan beasiswa. Ada juga scheme beasiswa untuk
orang miskin.
2. Pada saat pendidikan Sarjana di FISIP UI, saya menerima beasiswa dari
Diknas sejak tingkat 2, setelah tentu saja kita menunjukkan prestasi
akademik.
3. Pada saat saya menjadi anggota Senat Mahasiswa FISIP UI, dengan Ketua
Senat sdr. Imam Prasodjo, kebetulan saya memegang posisi ketua bidang
pendidikan. Saya baru melihat ada ketidakadilan dalam proses
transparansi beasiswa. Saya memiliki teman yang kaya-raya mendapatkan
beasiswa dari Toyota Foundations yang sebulannya mendapatkan 50 ribu
rupiah (bandingkan dengan beasiswa dari Diknas yang 9 ribu rupiah saja).
Biaya tinggal di Wismarini (asrama UI) hanya 3 (tiga) ribu rupiah. Saya
langsung protes ke PD III, agar beasiswa harus diumumkan jauh hari ke
mahasiswa. Akhirnya saya dapat pindah beasiswa ke Toyota Foundation.
Maka saya sangat kaya saat menjadi mahasiswa waktu itu. Penguasa,
termasuk di universitas, biasanya tidak memberikan informasi jauh hari
kepada mahasiswa. seringkali tinggal beberapa hari, sehingga kita tidak
dapat mengurus beasiswa tersebut karena sudah ditutup.
4. Pada saat yang sama saat di SM FISIP UI, saya juga menjadi Sekretaris
Komisariat HMI FISIP UI. Saya melihat bahwa banyak anggota HMI ternyata
miskin-miskin. Bersamaan dengan program SM FISIP UI, saya yang miskin
dan sudah dapat beasiswa, saya panggil orang-orang miskin tsb dan
membuat strategi untuk mendapatkan beasiswa. Belajar diperbaiki,
kualifikasi akademik diperbaiki. Alhamdulillah kita yang miskin-miskin
akhirnya menjadi pinter-pinter dan mendapatkan beasiswa.
5. Pada saat selesai kuliah saya ingin ke luar negeri. Posisi Sekretaris
Jurusan Ilmu Politik FISIP UI saya manfaatkan untuk membangun relasi
dengan berbagai lembaga beasiswa. Saat itu juga saya memiliki teman anak
Menteri Pendidikan. Saya bilang bahwa saya membutuhkan beasiswa. Dia mau
bantu, tapi saya menolaknya. Saya katakan kalau 3 kali saya menjemput
beasiswa dan gagal barulah saya akan meminta katabelece dari teman yang
anak Menteri Pendidikan tsb.
6. saya mendapatkan beasiswa dari Australia Indonesia Institute untuk
mengambil MPhil Houners Degree di Sydney University. AII ini sebetulnya
tidak tertarik untuk memberikan program beasiswa yang lama (2 tahun).
Program AII menurut saya hanya untuk mendapatkan nama di media sehingga
programnya lebih berupa short visit, seperti memberi beasiswa kepadaChristine Hakim, Gunawan Muhammad dkk mereka. Alhamdulillah saya
mendapatkan beasiswa tersebut selama 2 tahun dan itu satu-satunya
program AII sampai saat ini.
7. Saya menyadari kebencian saya terhadap bahasa Inggris, karena dari
SPG Lamongan, kuliah di FISIP UI, teman-teman saya kalau dilihat tempat
lahirnya, London, Washington, Manila, Maroko, Amsterdam. Nah, sebagai
orang ndeso Babat tembak langsung ke Jakarta, sebel juga saya dengan
Bahasa Inggris, walau di mata kuliah Bahasa Inggris tetap mendapat angka
8 (delapan). Sangat disadari bahasa inggris yang pas-pasan tersebut.
Alhamdulillah saya lumayan IELT nya. Setelah 5 bulan benar-benar
konsentrasi belajar bahasa Inggris, meninggalkan aktivitas LSM dan
lain-2nya. Untuk dapat masuk di Sydney University paling tidak harus 7,5
IELT yang harus didapatkan. Saya termasuk yang tidak mendapatkan 7,5,
saya lupa mungkin hanya 6,5 IElT tapi tetap dapat masuk di Sydney
University (the first university in Australia).
Silahkan baca lebih lengkapnya di:
www.herususetyo.multiply.com
|