| |
|
test Oct 13, 2008 | tes.com |
| test read more |
|
| |
|
test Oct 13, 2008 | test.com |
| test read more |
|
| |
|
test Oct 13, 2008 | test |
| test read more |
|
| |
|
Panas Oct 10, 2008 | www.daunsingkong.blogspot.com |
| Belakangan ini, rasa malas kok terasa semakin parah. Suhu udara musim panas yang sepertinya lebih parah dari Jakarta, membuat saya lebih betah menggelesor di lantai, didepan kipas angin sambil makan semangka, dan bengong melihat TV yang acaranya ndak begitu jelas. Pokoknya tidak pingin ngapa-ngapain, bahkan untuk bergerak satu senti pun, karena kalau bergeser sedikit udara akan terasa semakin panas.
Duh, mentang-mentang terbiasa dengan udara dingin, sok gak tahan panas... pasti ada yang pikir begitu deh.
Sampai sekarang rasanya saya masih susah membiasakan diri dengan perubahan musim. Waktu musim dingin pun saya ga begitu suka jalan-jalan. Lebih baik tinggal di rumah, menghangatkan diri, seperti saya pernah cerita. Makanya saya paling suka musim semi dan musim gugur. Tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu dingin. Manja ya...
Minggu kemarin, pekerjaan mengharuskan saya berkunjung ke sebuah pabrik di kota Kofu, prefecture Yamanashi. Jaraknya sekitar dua jam naik kereta express dari Shinjuku. Karena kota Kofu ini letaknya di lembah yang dikelilingi pegunungan, suhu udara di kota ini bisa mencapai 38 derajat celcius di musim panas. Beruntung di dalam pabrik ada alat pendingin ruangan. read more |
|
| |
|
TV, my best teacher Oct 10, 2008 | www.daunsingkong.blogspot.com |
| Bulan-bulan pertama saya tiba di Jepang, tekanan besar yang saya hadapi adalah masalah komunikasi. Meski sudah berbekal ilmu bahasa Jepang yang saya pelajari dari kursus di Jakarta, rasanya pembicaraan dengan orang Jepang kok tidak pernah nyambung. Entah cara bicara mereka yang terlalu cepat sehingga saya tidak bisa menangkap apa yang dikatakan, atau cara bicara saya yang terlalu sesuai dengan buku pegangan, sehingga dianggap aneh dan membosankan.
Yang tidak menguntungkan, teman-teman Jepang di lab bukanlah orang-orang yang senang bergaul, tapi lebih senang menekuni buku dan komputer. Keadaan seperti ini secara tidak langsung memaksa saya belajar bahasa lewat cara lain: menonton TV.
Dengan kemampuan daya tangkap yang terbatas, sudah pasti tidak mudah memahami isi acara TV. Kalau di Indonesia dulu bisa menikmati drama Jepang yang disertai sub-title bahasa Indonesia, menonton TV di Jepang membuat saya belajar menebak 'situasi' adegan demi adegan dengan mencoba mengerti pembicaraan yang hanya sepatah-patah tertangkap telinga.
Percakapan sepotong-potong yang kerap didengar lewat iklan (TV commercial), jadi andalan saya untuk menambah daftar kosa kata baru. Hafalkan saja dulu, kalau ada waktu periksa artinya. Sekalian sebagai latihan pengucapan. Belakangan saya sadar, tidak semua kata-kata yang muncul di iklan TV itu benar dalam tata bahasanya.
Gaya bahasa santai sehari-hari saya pelajari lewat drama. Dengan pengetahuan standar dari buku, pembicaraan dengan orang Jepang hanya terbatas sesuai dengan bahasa Jepang baku. Lawan bicara pun membalas dengan gaya bahasa standar, entah karena menghormati, atau karena takut tidak dimengerti. Padahal, gaya bahasa slang yang non standar sangat menarik untuk diketahui. Rasanya puas kalau bisa mengerti apa yang orang Jepang katakan, apalagi kalau mereka sampai bilang "aduh, kamu kan orang asing, masak kamu tahu kata-kata aneh begituan sih ?" He he he, makanya jangan bilang macem-macem di depan saya donk mbak... read more |
|
| |
|
Dari dalam kereta Oct 10, 2008 | www.daunsingkong.blogspot.com |
| Sehari-hari saya menghabiskan lebih dari 2 jam di dalam kereta. Satu jam untuk berangkat ke kantor dan satu jam pulang ke apartemen. Masih wajar untuk penduduk Tokyo metropolitan, sama wajarnya seperti penduduk Jakarta yang menghabiskan berjam-jam di dalam kendaraan menghadapi macet.
Saya mulai terbiasa dengan kondisi kereta yang selalu penuh di jam-jam sibuk.
Mulai dari memilih gerbong yang kira-kira masih bisa dimasuki. Jangan heran, pada jam berangkat kerja bukan hal aneh kalau gerbong saking penuhnya sampai tidak bisa dimasuki. Tidak seperti kereta Jakarta - Depok yang pintunya terbuka, kereta di sini tidak akan jalan kalau pintunya tidak menutup. Beberapa stasiun malah menyediakan petugas untuk membantu menutup pintu dari luar. Gerbong yang relatif bisa dimasuki, biasanya yang terletak di ujung depan atau paling belakang. Meskipun sedikit khawatir, mengingat gerbong yang rawan menabrak lebih dulu biasanya ya gerbong ujung ini.
Seperti yang terjadi di Amagasaki hari Senin lalu. Tapi rasanya memang tidak ada pilihan lain. Gerbong kosong hanya akan datang menjelang siang. Atau hari libur, seperti foto yang di atas itu.
Begitu kereta datang pun, harus siap-siap terdorong masuk. Memang di sini tidak perlu khawatir ada copet yang mengincar dompet, tapi gesekan dan dorongan orang-orang bukan tidak mungkin membuat tas bawaan lepas entah kemana. Goyangan kereta, meskipun lebih mulus dibanding goyangan Argo Bromo Anggrek, bisa membuat sengsara kalau tidak pandai menjaga keseimbangan badan. Apalagi dengan sepatu hak tinggi, rok span, dan tas kerja yang berat. Masih ditambah udara sesak pengap penuh keringat kalau cuaca panas.
Tapi lama-lama saya toh terbiasa juga. Sama seperti terbiasa menghadapi macet di Jakarta. Karena malas menggunakan otak untuk membaca, mp3 player jadi teman pengisi waktu. Atau sekedar diam membiarkan otak istirahat. Dan kadang-kadang muncul banyak pikiran tentang orang-orang dalam kereta.
Biasanya orang yang beruntung bisa duduk langsung pura-pura tidur. Pura-pura, karena bisa langsung berdiri begitu sampai stasiun tujuan. Supaya kalau ada nenek-nenek atau ibu hamil tidak perlu berdiri menyilahkan duduk. Pura-pura tidak lihat. Tapi ada juga yang benar-benar tidur, dan suara dengkurannya terdengar sampai gerbong sebelah. Lengkap dengan mulutnya yang terbuka. Biasanya bapak-bapak. Mungkin memang capek karena malamnya kerja sampai larut. Atau karena minum-minum ?
Yang masih muda biasanya main-main dengan telepon genggamnya. Mail, game, internet. Selebihnya sibuk dengan bacaan. Tidak jarang terlihat sekilas adegan tidak senonoh dari koran porno atau komik yang dipegang bapak-bapak. Kadang terpikir kenapa bapak itu tidak risih dilihat orang lain. Padahal mungkin di rumah dia punya istri dan anak perempuan.
Lewat speaker pengumuman, masinis menghimbau untuk tidak menggunakan telepon genggam di dalam kereta. Tapi masih saja terdengar suara orang menelepon. Tanpa menghiraukan lirikan sewot orang-orang sekitarnya. read more |
|
| |
|
Fukubukuro Oct 10, 2008 | www.daunsingkong.blogspot.com |
| Yang saya tunggu-tunggu di saat tahun baru, selain pengumuman takara kuji jambo (lotre dengan hadiah 300 juta yen), adalah kesenangan mengamati penjualan fukubukuro.
Fukubukuro atau lucky bag, merupakan kantong yang biasanya berisi pakaian, mainan, barang elektronik atau makanan. Biasanya isi fukuburo ini tidak bisa diketahui sebelum dibeli, meskipun kadang-kadang calon pembeli diperbolehkan mengintip kantong tsb. Keasyikan menebak apa yang ada di dalam fukubukuro menjadi satu daya pikat tersendiri.
Fukubukuro ini dijual dengan harga 70% sampai 20% harga aslinya. Misalnya, fukubukuro seharga 10000 yen bisa berisi 5-10 item pakaian, yang total harga sebenarnya bisa mencapai 40000 yen. Isi fukubukuro ini bervariasi mulai dari kemeja, celana / rok, kaos, kaos kaki, pakaian dalam, sampai jaket.
[kalau yg ini harganya 3000 yen] Di satu sisi, ini merupakan cara untuk mendongkrak penjualan di awal tahun, sekaligus untuk membersihkan stok musim dingin yang sebentar lagi akan berakhir. Di departemen terkenal, banyak orang rela antre sejak dini hari untuk membeli fukubukuro merek kesayangan. Beberapa departemen menjual fukubukuro dengan tema 'Yon sama' : fukubukuro dengan isi satu set pakaian ala Yon sama, lengkap dengan coat, muffler, dan petunjuk mengikat muffler sesuai gaya Yon sama. read more |
|
| |
|
Susahnya cari kerja Oct 10, 2008 | www.daunsingkong.blogspot.com |
| Belakangan ini saya sering melihat orang-orang muda berpakaian rapi : setelan kemeja putih dengan jas hitam. Melihat tampang mereka yang masih culun itu, saya bisa mengenali mereka sebagai mahasiswa pencari kerja.
Di Jepang, proses mencari kerja butuh waktu super lama. CV harus mulai disiapkan sejak setahun sebelum kelulusan. Dan tidak hanya CV yang diperlukan, pakaian untuk cari kerja pun harus disiapkan khusus, disebut sebagai recruit-suit. Termasuk dengan aksesori pelengkap seperti tas dan sepatu. Harga suit ini sekitar 20000 - 50000 yen (1 yen sekitar 80 rupiah). Harga ini tentu tidak murah untuk kantong mahasiswa.
Sebelum dapat kepastian diterima, ada beberapa step yang harus dilalui :
1. Seminar masing-masing perusahaan. Di sini akan diterangkan informasi perusahaan tsb. Sejarah pendirian, bidang usaha yang dilakukan, dan orang seperti apa yang dibutuhkan oleh perusahaan. Seminar ini sebenarnya tidak wajib dihadiri, tapi tidak jarang perilaku si pelamar sudah diamati sejak seminar ini. Di seminar ini akan diumumkan langkah perekrutan selanjutnya. Tentu saja kalau merasa tidak cocok, boleh tidak melanjutkan pelamaran.
2. Pengajuan CV. CV disini berbeda dengan yang biasa ditulis di Indonesia. Tidak bisa ditulis pakai komputer, harus ditulis tangan. Mungkin dari tulisan kanjinya ketahuan pribadi pelamarnya kali... Formnya pun tidak memakai kertas biasa. Harus pakai lembaran khusus CV. Yang menarik, selain data pribadi & riwayat pendidikan, ada juga kolom alasan kenapa mau melamar ke perusahaan tsb, hobi, spesialisasi (misalnya jago nyanyi, nari), pelajaran yang disuka dan alasannya, dll.
Hal lain yang tidak kalah penting : pas foto. Banyak mahasiswa menghabiskan uang cukup banyak demi memperoleh image meyakinkan. Tak jarang diadakan photo session di kampus, dengan mengundang photographer profesional, lengkap dengan seminar bagaimana berpose, cara tersenyum, tata cara make-up untuk yang cewek, demi menghasilkan figure yang OK. Katanya sih, sebelum melihat riwayat hidup, nasib pelamar ditentukan oleh fotonya... read more |
|
| |
|
Mewah untukku, mewah untukmu Oct 10, 2008 | www.daunsingkong.blogspot.com |
| Suatu hari, seorang Jepang bertanya pada saya, "Berapa orang 'maid' yang kamu punya di Indonesia ?". Saya dengan tersenyum menjawab, "Saya punya satu orang yang bertugas membersihkan rumah, satu yang mencucikan pakaian keluarga, dan satu yang mengurus kebun." Jawaban itu dibalas dengan tatapan seperti bermakna "waw !! betapa mewahnya hidup kamu, seperti putri raja yang dikelilingi dayang-dayang..."
Apakah benar itu suatu kemewahan ?
Di rumah keluarga kami, memang ada seorang mbak yang bertugas membersihkan & menjaga rumah. Hal yang wajar di Jakarta, mengingat kedua orang tua saya bekerja, dan kami tidak ingin meninggalkan rumah kosong tanpa penghuni. Untuk mencuci pakaian pun, kami membayar seorang ibu untuk melakukannya. Terlebih karena ada beberapa seprei dari kamar kost yang kami kelola, yang juga harus dicuci secara rutin. Kebun kami, meski tidak bisa dibilang luas, tapi ada tumbuh beberapa tanaman yang butuh perawatan. Tetapi lebih dari itu, mungkin apa yang kami lakukan dengan memperkerjakan beberapa orang di rumah kami, adalah untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Mereka butuh pekerjaan untuk hidup, dan kami akan sangat tertolong dengan keberadaan mereka. Bayangkan berapa jumlah pengangguran yang akan bertambah jika semua orang yang memperkerjakan pembantu di Indonesia memutuskan untuk berhenti mempergunakan jasa mereka. Pasangan suami istri yang dua-duanya bekerja pun akan kerepotan, dan keamanan di Jakarta saya rasa belum cukup bisa diandalkan untuk meninggalkan rumah selalu dalam keadaan kosong, atau dengan anak kecil tinggal sendiri di rumah sepulang sekolah.
read more |
|
| |
|
Saat tekanan tak tertahankan... Oct 10, 2008 | www.daunsingkong.blogspot.com |
| Selasa (12 Okt 04), 9 orang ditemukan tewas bunuh diri di Saitama. Begitu stressnya kah hidup di negeri ini sampai banyak orang memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri ? Data dari home page kepolisian Jepang menyebutkan bahwa di tahun 2003, tercatat lebih dari 34 ribu orang meninggal akibat bunuh diri, 72 % diantaranya laki-laki.
Dilihat dari kehidupan sehari-hari di sini, 'tekanan' memang rasanya sesuatu yang sulit dihindari. Bekerja sudah menjadi 'tujuan hidup' banyak orang, terutama laki-laki. Berangkat pagi pulang larut malam untuk bekerja, menggeluti bidang yang sama bertahun-tahun, orang cenderung mengesampingkan hal-hal lain seperti keluarga, kesenangan pribadi, dll. Akibatnya, ketika beberapa tahun belakangan terjadi krisis ekonomi, banyak orang kehilangan pekerjaan, dan merasa kehilangan 'jiwa'nya. Meskipun tersedia agen pencarian tenaga kerja, banyak yang merasa tidak ada pekerjaan yang sesuai, akibat monotonitas pekerjaan sebelumnya. Belum lagi, banyak istri yang mengajukan tuntutan cerai setelah suami kehilangan penghasilan. Hubungan yang semakin jauh dari keluarga menyebabkan hidup jadi terasa semakin sepi. read more |
|
| |
|
| Pages [1][2][3][4][5][6][7][8] next |
|
|
|
|
|
|