www.beasiswa.web.id
Perburuan saya mencari beasiswa dimulai setelah saya bekerja di sebuah
perusahaan tambang asing di timur Indonesia. Saya ingat beasiswa
pertama yang saya coba adalah beasiswa dari Australia, yaitu The
Australian Development Program. Hanya bermodal keinginan kuat dan
kepercayaan diri yang terlalu tinggi, saya mengirimkan lamaran saya
tanpa dilengkapi beberapa dokumen yang diperlukan. Itu pengalaman
pertama saya, dan hasilnya bisa diramalkan: gagal.
Percobaan kedua, beasiswa Chevening Award dari negara Inggris yang
menjadi sasaran saya. Seingat saya, salah satu persyaratan beasiswa
ini adalah menulis esai. Dokumen dokumen yang diperlukan sudah saya
peroleh. Tetapi untuk urusan esai, wah, saya benar-benar cuek. Esainya
saya tulis seadanya tanpa memperdulikan isi tulisan, struktur, dan
lain-lain. Hasilnya lagi-lagi bisa diramalkan: gagal deuy!
Yang ketiga dan, syukurlah, yang terakhir saya mencoba beasiswa
Fulbright dari negara Amerika Serikat. Untuk yang terakhir ini,
persiapan saya jauh lebih matang. Pertama, selama sebulan penuh saya
belajar mengerjakan soal-soal ujian TOEFL. (In case kamu bertanya,
saya menggunakan buku terbitan Barron’s). Teman-teman yang mengunjungi
rumah tempat saya tinggal bisa melihat bagaimana setiap malam saya
sibuk berkutat dengan buku tersebut. Saya membuat target untuk
menyelesaikan sepuluh soal setiap malamnya. Bukan hanya saya kerjakan
sambil lalu, tapi saya pastikan setiap kali saya mempunyai masalah,
saya mendapatkan penjelasan yang baik.
Kedua, sekali ini, saya bela-belain bolak-balik Jakarta Bandung hanya
untuk mendapatkan surat rekomendasi dari dua orang dosen yang cukup
saya kenal. Benar, yang diminta hanya satu surat rekomendasi. Tapi
kali ini, saya tidak mau membuat kesalahan. Saya pastikan saya
mendapatkan surat rekomendasi dari kedua dosen saya tersebut.
Ketiga, saya benar-benar belajar untuk menulis esai. Saya luangkan
waktu saya beberapa jam di Internet hanya untuk mencari contoh-contoh
esai yang baik. Selain dari pelatihan menulis laporan yang saya terima
di tempat saya bekerja, saya tidak punya pengalaman lain dalam
menulis. Karena itu, saya berusaha mencari informasi
sebanyak-banyaknya. Berkali-kali saya meminjam buku-buku di
perpustakaan yang saya pikir bisa memberikan pencerahan buat saya
dalam menulis esai. Selain itu, majalah-majalah asing, seperti Time,
Newsweek, dan Fortune, saya “lahap” hanya untuk mengerti bagaimana
sebuah tulisan menjadi menarik untuk dibaca hingga selesai.
Hasilnya tidak sia-sia. Sekali ini, saya berhasil. AMINEF memanggil
saya untuk mengikuti wawancara di Jayapura. Dan akhirnya, saya berhak
menyandang gelar “Fulbright Scholar” di tahun 2000. (Tidak terasa
ternyata sudah 7 tahun berlalu!)
Semua hal tersebut seolah-olah saya rasakan kembali ketika beberapa
waktu lalu saya dan teman-teman moderator milis beasiswa mendapat
kesempatan untuk berbagi informasi dan cerita di salah satu
universitas di Jakarta. Tapi kilas balik tersebut saya rasakan bukan
karena seseorang menceritakan perjuangannya mencari beasiswa. Justru
itu saya rasakan karena pertanyaan yang, bagi saya, nadanya sedikit
pesimis dari salah seorang peserta acara seminar tersebut.
Pertanyaannya simpel,”Apakah dengan IPK saya yang hanya sedikit di
atas 3,00 saya bisa mendapatkan beasiswa?”. Pertanyaan tersebut
seolah-olah menggambarkan kalau dengan IPK yang pas-pasan tersebut,
tidak ada lagi harapan bagi si penanya. Seolah-olah IPK adalah harga
mati yang membuat seseorang tidak bisa (atau bisa) mendapatkan
beasiswa. Cepat saya menjawab,”Saya juga IPK-nya segitu kok”. Ya,
benar. Walaupun harus malu mengakuinya, IPK S1 saya cuma 3,0x (x nya
isi sendiri). Kenyataannya, saya mendapatkan beasiswa tersebut.
Kenyataannya, di tahun 2002 saya kembali ke Indonesia sebagai
Fulbright Scholar dan ditambah embel-embel MBA.
Jawaban saya ternyata tidak memuaskan penanyanya. Sekali lagi di maju
dan berkomentar,”Mas Togap kan kerja di PT XXX. Jadi ya wajar dong
kalau dapet beasiswa tersebut. PT XXX itu kan salah satu penyumbang
untuk beasiswa itu!”. Oh well, memang benar saya saat itu tercatat
sebagai karyawan di PT XXX. Juga benar, kalau saat itu PT XXX adalah
salah satu penyumbang untuk beasiswa Fulbright. Tapi terus terang
saja, sekalipun saya tidak pernah berpikir kalau itulah yang menjadi
alasan saya mendapatkan beasiswa itu!..........................
Silahkan baca lebih lengkapnya di:
http://www.beasiswa.web.id/
|